Cleo Indonesia

Teman Jalan Yang Asyik

Pasca kecelakaan, saya ingin banyak berjalan kaki demi kebugaran. Bagaimanapun, alasan kesehatan rupanya tidak cukup untuk menjadikannya kebiasaan. Oleh Bayu Maitra


 
Pak Koko adalah guru olahraga yang simpatik. Dia sudah tua, dengan kulit berkeriput dan uban di kepala. Tapi refleks Pak Koko masih lincah dan cekatan. Suaranya pun lantang. Kata orang, tua atau tidaknya manusia bisa dilihat dari suara. Jika lemah dan bergetar, maka ia tua. Tetapi jika masih jernih dan bertenaga, maka ia masih muda. Paling tidak, secara jiwa.
 
Satu hal yang saya ingat dari Pak Koko adalah wejangan favoritnya yang begitu ‘textbook’ dan bikin geleng-geleng kepala: Mens sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa yang sehat. Kini, sekitar 20 tahun kemudian, saya baru melihat kebenarannya.
 
Sejak saya mematahkan kaki kanan dalam kecelakaan motor di Bali, saya rindu dengan yang namanya olahraga. Bagaimana tidak? Selama pemulihan, hidup rasanya serba sulit. Jangankan berjalan normal, memakai celana dalam saja setengah mati. Kehidupan sebagai korban kecelakaan sangat membosankan. Bangun, makan, browsing, nonton, baca, tidur. Begitu terus. Saya merasa tubuh melemah karena tidak banyak bergerak. Perut buncit karena lebih banyak yang masuk daripada keluar. Tetapi yang lebih menyebalkan adalah saya lelah secara pikiran. Ketidakberdayaan sungguh suatu musuh yang menakutkan.
 
Kejadian itu memberi saya pelajaran. Pertama, kesehatan adalah sebuah kemewahan. Kedua, kesehatan mesti dijaga dengan berolahraga. Masalahnya, tidaklah mudah untuk berolahraga di kota besar, di mana waktu berjalan cepat dan rutinitas menghantam dengan membabi buta. Tanpa sadar, energi sudah menguap entah ke mana.
 
Jika Anda berpikir bahwa saya hanya beralasan, mungkin Anda benar. Tetapi yang jelas, banyak teman saya sepakat soal ini. Mereka tak hanya dari kalangan laki-laki, tapi juga wanita. Ya, terkait kemauan berolahraga, rasanya kita tak jauh berbeda.
 
Bagi saya, ada tiga jenis orang terkait olahraga. Pertama, dia yang olahragawan tulen. Dari pagi hingga malam, ada saja gerakannya. Lari pagi, push up siang, jalan jongkok sore, hingga ‘olahraga ranjang’ di malam hari. Hanya nasib yang membuat orang-orang macam ini tidak menjadi atlet.
 
Jenis kedua adalah tim Gapatar (Gerakan Apa-apa enTar). Sesuai namanya, manusia yang berada dalam kategori ini sulit sekali diajak bergerak. Sekalinya bergerak, ya, disko. Mengajak mereka berolahraga sama sulitnya dengan membeli tiket Imax film Captain America: Civil War di minggu pertama tayang.
 
Saya termasuk jenis ketiga. Dalam politik, inilah floating voters: golongan orang-orang kurang berprinsip, yang iya atau tidaknya sangat bergantung situasi, kondisi, dan subsidi. Tergantung ajakan orang. Tergantung olahraga apa dan di mana. Tergantung sudah punya peralatannya atau mesti beli dulu, namun akhirnya malas bergerak. Kami seringkali termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.
 
Belakangan ini saya mencoba jadi pengguna kereta commuter line. Alasan utamanya, ketika ditanya orang, adalah ingin mengembalikan kebugaran pasca kecelakaan. Dengan menggunakan kereta, saya mesti berjalan kaki ke stasiun dengan jarak yang lumayan. Sejauh ini saya senang saja. Apalagi, kata Nietzsche, semua pemikiran besar muncul ketika seseorang sedang berjalan kaki.
 
Alasan lainnya, tentu saja, berkaitan dengan ekonomi, efisiensi, dan kenyamanan. Kalibata-Sudirman cuma Rp2000 dan hanya ditempuh dalam 20 menit. Gerbong kereta dingin. Lagipula, saya selalu membawa tongkat yang secara ajaib bisa bikin orang bangkit dari kursi dan mempersilakan saya duduk.
 
Namun, meski banyak hal positif bisa didapat dari menjadi commuter (termasuk melatih kekuatan kaki yang cedera), saya masih kesulitan untuk menjadikannya kebiasaan. Sepertinya, ada saja rasa malas yang selalu mengintai dari kegelapan.
 
Sebagaimana generasi umumnya generasi media sosial, saya butuh motivasi lebih untuk berolahraga. Saya butuh ‘teman’ yang asyik. Ia bisa macam-macam, mulai dari teman berjalan kaki ke stasiun, pedometer Xiaomi yang mengingatkan saya mesti berjalan delapan ribu langkah dalam sehari, atau aplikasi stretching di ponsel. Yang penting asyik.
 
Dengan teman yang asyik, wejangan Pak Koko bisa diwujudkan. Mens sana in corpore sano tak lagi terdengar seperti gue ke sana, elo ke sono.
 
Foto Fotosearch
 
 
 
 
 

Share this article :

Related posts