Cleo Indonesia

Adrian Aryo Bismo

21,Private Chef/ Wirausahawan / Konsultan Restoran



Kenapa terjun ke dunia kuliner di usia semuda ini? Saya  mau menjadi chef sejak kelas 5 SD. Awalnya cuma tanya ke ibu, pekerjaan apa yang tidak pakai hitung-hitungan? Dan ibu bilang, masak. Dan kebetulan keluarga ayah memang punya restoran saat masih tinggal di Berlin, Jerman. Saya terinspirasi dari William Wongso. Orang asing ke Indonesia tidak mau makan makanan asing, tapi makanan lokal. Nah, bagaimana caranya kita bisa membuat makanan itu terlihat lebih menarik untuk dicoba. Rendang itu menjadi makanan top dunia, tapi secara presentasi agak kurang menarik, bagaimana caranya menampilkan makanan itu tampak lebih menggugah selera dan bisa diterima oleh lidah orang asing? Misalnya rendang dimasukkan dalam bentuk ravioli, dalam bentuk pasta. Jadi orang asing masih bisa mendapat gambaran tentang rendang.
Menu yang biasa Anda buat? Fine dining, presentasi, komponen yang rich, lebih detail, misalnya saya mengombinasikan daging, vanilla, dan kopi arabika. Terdengar aneh, tapi secara ilmiah, ini bisa bercampur. And it blends well in your mouth. Spesialisasi Anda? Western food karena saya lama berpengalaman di restoran Italia dan Prancis. Tapi sekarang saya sedang mencoba fusion.
Punya bisnis kuliner? Ada satu di Pasar Santa, namanya Good Fellas. Kami menyediakan homemade food, berbeda dengan menu yang biasa saya buat. Menunya berubah setiap minggu, tergantung bahan yang saya temukan di pasar.
Film favorit? The 100-Foot Journey, Ratatouille, serta film-film komedi romantis, chicklit, sesuatu yang easy-watching.
Musik favorit? Jazz.
Pencapaian paling membanggakan? Memperkenalkan makanan Indonesia di luar negeri. Saya sempat ikut dalam International Conference on Tempe. Di sana, saya menjadikan tempe menjadi makanan high class, serta mengembangkan menu-menu dari bahan dasar tempe.