Cleo Indonesia

Pentingnya Mengenal Tanda Depresi


Siapa bilang orang yang mudah bergaul dan punya banyak teman jauh dari depresi?
 

Depresi bukanlah penyakit mengada-ada. Meskipun termasuk ‘penyakit mental’ yang paling umum, kebanyakan orang lebih memilih untuk tidak menghiraukan kesedihan dan perasaan kelam yang mereka rasakan agar tak tampak lemah. Padahal, jika dibiarkan, perasaan ini dapat berkembang menjadi depresi klinis. Menurut Centers for Disease Control  di Amerika Serikat, sekitar 10 hingga 25 persen wanita dan 5 hingga 12 persen pria terdiagnosis menderita depresi klinis pada suatu titik dalam hidup mereka.

Ignorance and denial are not cures for depression. Inilah sepuluh hal yang bisa menjadi tanda untuk mendeteksi depresi sejak dini agar Anda bisa mencari tahu sumber masalah dan melakukan penanganan yang tepat. Seperti kata Abraham Maslow sang psikolog kenamaan, “What is necessary to change a person is to change his awareness of himself.” Recognize how you feel so you can fight on.


Terlalu percaya diri.
Banyak orang mengatasi depresi dengan bertingkah kebalikan dari apa yang sebenarnya mereka rasakan. Misalnya, ketika Anda merasa putus asa dengan kemajuan karier, misalnya, Anda justru akan dengan nekat dan tanpa pertimbangan matang resign dari kantor lama dan mencari pekerjaan baru untuk mendapat prospek lebih baik, dengan anggapan bahwa Anda pasti bisa mendapat pekerjaan baru tersebut—padahal belum tentu.

Mencari pelarian yang seringkali sifatnya destruktif.
Misalnya mengonsumsi alkohol berlebihan. Orang-orang tak jarang menjadikan hal atau zat adiktif seperti alkohol sebagai pelarian untuk sejenak melupakan emotional pain yang dirasakan.

Mudah emosi.
Adu pendapat sedikit, bisa membuat kepala Anda ‘memanas’ dan marah-marah. Luapan kemarahan yang berlebihan atau tak pada tempatnya bisa jadi tanda bahwa kondisi mental Anda sebenarnya sedang kacau balau.

Terlalu sering bersosialisasi.
Bersosialisasi dan punya banyak teman memang bagus, namun jika Anda bersosialisasi terus-menerus hanya untuk menghindari kesendirian, itu perlu diwaspadai. Seringkali orang-orang bukannya tak suka sendirian, namun mereka merasa takut bahwa kesendirian itu akan membuat mereka harus ‘bergumul’ dengan pikiran dan perasaan yang tertekan dan penuh kesedihan.

Merasa kosong.
Kesedihan ditekan dan dibuang jauh-jauh. Hasilnya, yang dirasakan hanyalah perasaan kosong. Mati rasa. Numb.

Sulit konsentrasi.
Semua orang pernah mengalami kejadian susah fokus sesekali, misalnya karena mengantuk. Namun orang yang depresi dini sangat sulit atau mungkin nyaris tak bisa berkonsentrasi pada apa yang seharusnya mereka perhatikan.

Pujian atau penghargaan serasa tak ada artinya.
Sewajarnya, reward positif dapat meningkatkan self esteem seseorang. Namun jika pujian tulus, penghargaan, atau reward dalam bentuk apapun tak menyuntikkan semangat ke dalam diri, sebaiknya waspada.

Mencari pengakuan dari lawan jenis.
Anda mengandalkan banyaknya ‘penggemar’ untuk meningkatkan rasa percaya diri. Semakin banyak pria yang naksir, semakin pe-de pula Anda.

Work hard, not smart.
Pekerjaan sering menjadi pelarian saat kondisi hati berantakan, bahkan orang-orang di sekeliling Anda sampai khawatir karena Anda bekerja terlalu keras. Tapi Anda tak peduli. It’s your coping mechanism.

Over reacting.
Anda mudah bersedih dan merisaukan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dibuat bersedih. Terkadang sebaliknya. Ketika ada hal-hal yang sebenarnya perlu dirisaukan, Anda malah tak acuh.


Teks RARA PUTRI DELIA
Foto Stocksnap

 

Share this article :

Related posts