Cleo Indonesia

Susahnya Menagih Utang

Menjadi penagih utang tampaknya memerlukan bakat khusus.
Oleh:
Imelda Rahmawati, Redaktur Online

Jujur saja saya bukan orang pelit, tapi sebagai karyawan yang masih menggantungkan hidup pada gaji pribadi dan bukan gaji orang lain (apalagi suami karena masih single), urusan utang piutang adalah hal yang pelik. Masalah bermula saat saya dan teman yang saya kenal sejak duduk di bangku SMU hang out bersama. Di tengah sesi mengobrol, tiba-tiba dirinya bercerita kalau masa kontrak di tempatnya bekerja sudah habis dan dirinya akan segera menganggur. Bermula dari pembicaraan tersebut ia mengaku jika dirinya tidak memiliki tabungan dan kelimpungan membiayai dirinya kelak. Maklum, ia perantauan yang tinggal sendirian di Jakarta. Merasa kasihan, saya menyanggupi akan meminjamkankan uang selama ia mencari pekerjaan baru. Toh, jumlah tidak seberapa, hanya ratusan ribu rupiah dan tidak mencapai angka jutaan. Apalagi saya melihat dirinya (sepertinya) akan mudah mendapat pekerjaan baru mengingat track record pekerjaannya yang bagus dan tidak pernah kena surat peringatan dari bos terdahulu.

            Itu kejadian lima bulan yang lalu. Ternyata hingga saat ini teman saya masih menganggur dan sejak saat itu ia sudah berkali-kali meminjam uang pada saya. Tentunya tidak setiap permintaannya saya kabulkan karena rasanya sebal juga. Memangnya saya bank yang bisa seenaknya dipinjami? Bahkan proses peminjaman uang di bank saja tidak semudah itu. Rasa kasihan saya sekarang sudah berubah menjadi rasa sebal sekali dengan teman tersebut. Terutama saat mengetahui bahwa ia juga meminjam uang pada teman-teman saya yang lain. Bahkan di antara mereka ada yang pinjamannya mencapai puluhan juta rupiah. Wow.

            Saya sempat bertanya padanya, memangnya ia tidak bisa meminjam uang pada keluarganya. Tapi jawabannya tak kalah mengenaskan karena kedua orang tuanya yang ada di Manado sudah pensiun dan otomatis tidak memiliki penghasilan. Saya lalu kembali bertanya kepadanya, apakah ia tidak pernah berusaha mendapatkan pekerjaan kembali. Jawabannya beragam, mulai dari letak kantor yang jauh hingga gaji yang ditawarkan tidak sesuai, “Gaji yang ditawarin jauh banget dari yang dulu. Kalau gue ambil, pasti nanti CV gue jadi jelek,” ujarnya.

            Fine. Mencari pekerjaan dengan gaji besar dan segala hal yang sesuai harapan memang bukan hal yang mudah. Everybody knows it! Tapi menurut saya, seharusnya dia menyesuasikan diri dengan kondisi saat itu. Nyatanya teman saya ini masih tak sadar kalau dirinya sudah banyak berutang karena ia masih santai-santai saja mencari pekerjaan. Saya pun jadi makin sebal ketika beberapa waktu lalu menagih utang padanya tapi ia malah balik mengomel pada saya dan mengatakan tidak punya uang. Di lain kesempatan ia justru menangis tersedu-sedu dan mengatakan jika ia tidak punya uang untuk bayar indekos. Saya jadi semakin bingung apa yang harus saya lakukan menghadapi teman yang satu ini. Dihadapi dengan tindakan keras tampaknya tidak berhasil karena justru dirinya yang bertambah galak, sementara jika dengan tindakan halus hasilnya tidak berdampak apa-apa. Bahkan saya sempat memutuskan hubungan sementara dengannya, misalnya tidak membalas sms atau teleponnya untuk menimbulkan efek jera. Tapi cara itu juga gagal.
 
            Akhirnya saya dan teman-teman hanya bisa bersabar tapi kami berkomitmen untuk tidak meminjamkan uang lagi kepadanya. Cara ini tampaknya berhasil membuatnya kelimpungan mencari pekerjaan baru karena sudah tidak ada lagi pemasukan untuk menopang hidupnya. Mudah-mudahan ia cepat mendapat pekerjaan dan bisa membayar semua utangnya. Satu hal yang saya pelajari dari kejadian ini adalah lebih berhati-hati dalam meminjamkan uang. Bagi Anda yang juga memiliki masalah seperti saya, ingatlah bahwa Anda harus tetap sabar dan gigih menagih utang karena itu adalah hak Anda.
 
Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts