Cleo Indonesia

The Passion Pit

So you think you know what your passion is? Or are you as clueless as most people are.
 
Margaretha Untoro
Editor in Chief/Chief Community Officer


“Carilah pekerjaan atau profesi yang sesuai dengan passion.”
Tentunya ucapan seperti ini sudah (terlalu) sering Anda dengar. Passion, atau gairah, adalah dorongan, keinginan, atau hasrat yang kuat akan suatu hal. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan passion umumnya akan menghasilkan karya atau kontribusi yang lebih stand out atau luar biasa. Sebut saja mereka yang berjaya di bidangnya masing-masing, seperti Heston Blumenthal di bidang culinary, Ernest Hemingway di bidang menulis, Pablo Picasso di bidang melukis, Steve Jobs di bidang komputer dan teknologi, atau Beyonce dan Rihanna di bidang menyanyi dan menulis lagu. Passion pun terlihat di penemuan-penemuan Albert Einstein hingga dalam langkah-langkah bisnis seorang Warren Buffett.   

Minat yang tidak dibarengi dengan passion, tidak akan berkembang maksimal. Kenapa? Because passion is what drives you to reach your dreams, passion is what fuels your perseverance when you run into obstacles, passion is what keeps you going and stops you from giving up. Yang jadi masalah adalah, kata-kata ini begitu seringnya dilempar ke udara, terutama di kalangan millennial. Mereka mengungkapkannya tanpa dicerna atau diresapi maknanya, dan menjadi alasan seseorang berhenti kerja dan menjadi ‘kutu loncat’ dalam meniti karier karena merasa “Nggak sesuai sama passion gue”. Padahal saat ditanya apa passion dirinya, dia hanya bisa menjawab dengan terbata-bata alias sebenarnya tidak tahu.

Memang tidak ada yang salah dalam mencari profesi yang sesuai dengan passion. Saya sendiri sempat merasakan fase trial and error sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di dunia media, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun saya juga merasa bahwa tidak semua orang bisa menemukan passion secepat itu atau dengan cara yang sangat gamblang. Kakak saya termasuk salah satu orang yang memiliki passion yang sudah ia rasakan sejak masih kecil—ia suka menggambar dan mendesain baju sejak masih duduk di bangku SD. Kini ia menjalani karier sebagai freelance stylist, desainer, dan ilustrator.

Masih banyak lagi orang-orang yang saya temui yang sukses berkat mengikuti passion yang sudah mereka ketahui sejak dini, tapi saya juga melihat banyak orang yang melakukan pekerjaan yang mungkin terdengar ‘biasa-biasa saja’ dengan kesungguhan. Seperti misalnya saat saya bertemu seorang supir taksi yang ramah dan sigap melayani tamu dengan senyuman dan ucapan santun meski waktu sudah sangat malam. Apakah si bapak ini bermimpi menjadi seorang supir taksi sejak kecil? Saya rasa tidak. Keadaan mungkin memaksanya untuk memilih profesi tersebut, tapi bukan berarti ia melakukannya dengan terpaksa atau berat hati. Saat ia melakukan pekerjaannya tersebut dengan kesungguhan hati, di sana saya melihat passion yang luar biasa. Jadi menurut saya, terkadang passion muncul di awal. Lucky you if that’s the case, life is slightly easier. Namun terkadang, passion baru muncul setelah menjalani sesuatu, asal Anda mencoba dengan sepenuh hati dan tidak cepat menyerah saat terbentur masalah.

Tidak perlu merasa tertekan kalau belum mengetahui dengan pasti apa passion Anda. Tapi kalau sudah menunjukkan gejala sebagai ‘kutu loncat’, sebaiknya Anda mulai intropeksi dan fokus mencari tahu, apa yang Anda ingin lakukan dalam hidup. Asal jangan yang ‘khayal-khayal babu’, ya. Pernah saya terlibat sebuah percakapan singkat dengan putri seorang kerabat. Waktu itu saya baru mulai meniti karier, sedangkan anak ini duduk di bangku SMA. Kira-kira begini isi percakapannya:
“Kamu kalau udah gede, mau jadi apa?” tanya pamannya.
“Jadi social girl!” jawab si gadis mantap tanpa berkedip.
Saya pun tergelitik mencari tahu lebih dalam tentang ‘profesi’ asing ini, “Social girl maksudnya apa, ya?”
“Yah, kayak si AB (menyebut nama seorang sosialita, putri salah satu konglomerat Indonesia). Kerjanya enak, cuma party tiap hari dikelilingi cowok-cowok,” ujarnya santai.

Sontak si paman misuh-misuh dan mencoba menasihati keponakannya, sementara saya hanya bisa tertawa sinis. Kalau sudah begini, sih, bukan passion yang berbicara, tapi rasa malas dan keinginan untuk hidup ‘serba enak’!

Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts