Cleo Indonesia

Travel Is Also an Investment

That’s why it's the one thing that I will never regret spending money on
Oleh: Prihandhini, Managing Editor CLEO


 
Sama seperti kaum millennial lainnya, saya sangat suka traveling. Maklum saja, hidup di ibukota yang penuh tekanan sudah jelas sering memicu timbulnya stres. Maka traveling pun menjadi salah satu jalan keluar dari rasa stres ini. Buat saya pribadi, traveling sudah jadi kebutuhan primer. Setidaknya dalam dua bulan, saya harus pergi ke luar kota untuk refreshing. Tidak mesti ke tempat yang jauh, pergi ke Bandung atau Cirebon saja saya sudah cukup puas.
 
Bagi sebagian besar orang, termasuk saya, traveling memang seperti candu. Excitement yang dirasakan sebelum pergi, saat berada di tempat tujuan, dan sesudah pulang selalu membuat ketagihan. Beberapa bulan sebelum pergi misalnya, saat mencari informasi tempat tujuan lewat internet saja saya sudah merasa senang. Sementara saat berada di tempat tujuan, rasa senang sekaligus deg-degan campur aduk jadi satu. Sesudahnya, euforia kebahagiaan usai traveling biasanya menempel hingga satu atau dua minggu kemudian. Setelah itu? Mulai mencari destinasi baru untuk dijelajahi lagi tentunya.
 
Walau selalu memakai uang sendiri, namun kadang orang tua saya merasa saya terlalu banyak menghamburkan uang untuk traveling. Namanya juga orang tua, tentu mereka menginginkan anaknya lebih banyak menyimpan uang demi masa depan. Berhubung saya sudah tahu betapa pentingnya dana darurat dan berinvestasi, maka di sela-sela tabungan dana traveling, saya tetap menyisihkan sedikit (ya, harus diakui baru sedikit) uang untuk berinvestasi, kok.
 
Sebenarnya, traveling juga bagian dari investasi, lho. I see it as an investment in memories. Saya melihat tempat-tempat baru, bertemu dengan orang baru, mendapatkan pengalaman baru, yang tidak akan saya lupakan sepanjang hidup. Seperti kata pepatah, traveling adalah satu-satunya hal yang membuat Anda benar-benar ‘kaya’.
 
Karl Pillemer, seorang gerontologist (ahli yang mendalami kaum lanjut usia) dari Cornell University, telah melakukan penelitian terhadap kaum lanjut usia di Amerika selama beberapa tahun. Dalam penelitiannya, ia bertanya pada mereka apa hal yang mereka sesali di usia mereka sekarang. Pillemer menyatakan keterkejutannya ketika rata-rata mereka menjawab bahwa hal yang mereka sesali adalah tidak cukup sering bepergian. “Travel is so rewarding that it should take precedence over other things younger people spend money on,” kata salah satu responden. Para responden yang diwawancara Pillemer mengatakan bahwa traveling sangat penting dilakukan saat Anda masih muda.
 
Menurut saya, traveling juga bisa menjadi sebuah investasi dalam hubungan dengan pasangan. Bepergian bersama pasangan bisa menjadi jalan untuk menghabiskan quality time dengan si dia dan mengenal dirinya lebih dalam.
 
Kembali ke soal uang, harus diakui kalau traveling kadang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terutama kalau saya bepergian untuk melakukan tujuan khusus yang sudah lama menjadi hobi saya, yaitu menyelam. Ada beberapa hal yang harus saya korbankan, misalnya lebih memilih menabung untuk trip selanjutnya daripada membeli sebuah tas atau sepatu.
 
Jadi kalau saat ini Anda masih bingung memilih antara bepergian atau berinvestasi demi masa depan, kini saatnya Anda menyeimbangkan keduanya, antara menikmati kebahagiaan Anda saat ini dan menyiapkan kehidupan finansial yang aman di masa depan. Building financial security is important, but so is joy and happiness.
 
Foto Fotosearch
 
 

Share this article :

Related posts