Cleo Indonesia

Bising

Terkadang kami merasa perempuan terlalu senang bicara. Ternyata, ini bukan perasaan kami saja. Oleh Bayu Maitra

Malam sudah larut ketika kami selesai mengemas barang-barang sisa garage sale, suatu hari di Juli silam. Badan serasa remuk, muka rasanya tak keruan bentuknya. Semua mengoceh ingin pulang, tapi pantang pulang sebelum makan. Perut kami memang lapar bukan main. Ngobrol sudah pakai urat. Sepeda kumbang dibaca sate kambing.

Saya mengemudikan mobil yang ditumpangi empat wanita. Entah mengapa saat itu saya merasakan firasat buruk. Dan betul saja, sesaat setelah masuk mobil, suasana bagai di tengah debat parlemen. Semua berbicara dalam nada tinggi: Menyela, menyahut, membantah, mengusulkan, menyela kembali. All out war. Saya duduk di kursi supir dalam diam, menarik diri dari perdebatan dan menyerahkan keputusan pada forum. Saya coba fokus mendengarkan musik. Tentu saja itu sia-sia. Pikiran melayang: Tak bisakah diskusi berjalan dalam volume lebih rendah? Dikurangi treble-nya, mungkin. Dan tempo… Saya yakin diskusi akan lebih enak didengar jika dilakukan dengan tempo pelan. Adagio, atau paling tidak moderato.

Riset dari University of Maryland baru-baru ini mengemukakan fakta menarik. Para peneliti itu berhasil memahami protein Foxp2 di dalam otak. Pendek kata, Foxp2 adalah protein yang punya andil terhadap kegemaran seseorang untuk berbincang - dan karenanya ia dijuluki “protein bahasa”. Dan ya, kadar Foxp2 memang lebih tinggi di dalam otak wanita. Temuan itu menjelaskan mengapa anak perempuan lebih cepat berbicara ketimbang anak laki-laki. Itu pula sebab mengapa perempuan berbicara sebanyak 20.000 kata per hari, sementara laki-laki hanya 7.000 kata. Jadi, untuk para laki-laki, jika kalian bingung, resah dan gundah karena kekasih Anda terlalu banyak bicara, ingatlah satu hal: It’s natural. Anda mesti tabah sampai akhir.

Tetapi di sisi lain, untuk perempuan yang menjadikan fakta itu sebagai senjata membela diri, Anda juga mesti paham bahwa, pada akhirnya, Anda justru tidak akan mendapat apa-apa. Salah satu pelatihan penulisan mengajarkan saya soal bagaimana merangkai sebuah kalimat yang efektif, baik untuk bertanya maupun menulis. Penulis sebaiknya membatasi jumlah kata dalam satu kalimat, maksimal 12 kata. Kalimat yang baik juga hanya sepanjang satu tarikan napas, dan ia tidak beranak-pinak. Dasarnya adalah, semakin banyak kata dan semakin panjang kalimat, semakin berkurang daya serap pendengar. Ini ada benarnya. Artinya, semakin banyak Anda bicara, semakin sedikit yang kami dengar. Semakin panjang Anda bicara, semakin sedikit yang kami tangkap. Semakin bising Anda, semakin Anda ‘tidak terdengar’ di kepala kami.

Malam kian larut, dan mobil masih bergeming di lahan parkir garage sale kami di kawasan Bangka, Jakarta Selatan. Berbeda dengan posisi mobil, obrolan empat wanita sudah keliling Jakarta: Makan bubur Kwang Tung di Pecenongan, ayam Malaya di Menteng, gulai sapi di Mayestik, roti bakar di Fatmawati, dan entah mana lagi. Saya mencoba kembali mendengarkan musik, dan, tentu saja, kembali gagal. Diskusi kini berjalan dalam fortississimo. Dalam musik, fortississimo berarti volume yang sangat, sangat kuat. Kring… kring… seorang teman menelepon ke salah satu wanita di dalam mobil, menyela diskusi. Tak sampai 15 detik, telepon ditutup. “Kita makan di depan saja, semua sudah kelaparan,” katanya memberitahu seisi mobil. Semua mengangguk.

Malam itu kami memutuskan makan di warung pecel ayam pinggir jalan, 15 meter dari lokasi garage sale. Sebuah solusi mudah, sebetulnya, jika saja diskusi berjalan lebih adem.
 
Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts