Cleo Indonesia

Cita-Cita, Bukan Karier

Banyak orang menganggap cita-cita adalah hal remeh, tidak sepenting atau senyata karier. Mereka mungkin keliru.
Oleh Bayu Maitra




Cita-cita saya semasa kecil dipengaruhi oleh sepatu. Ya, saya selalu suka sepatu itu; karetnya licin, tingginya nyaris sebetis, dan tentu saja, nyala kuningnya yang mencolok mata. Sepatu itu memberi saya?seorang bocah?cita-cita yang mantap. Ketika besar nanti, saya ingin jadi… tukang sampah.

Tentu saja Ibu punya preferensi berbeda. Baginya, menjadi dokter atau pengacara lebih  oke. Beberapa pakde dan bude bekerja di bidang ini. Sederhananya, dengan mengikuti jejak mereka, hidup mungkin jadi lebih mudah. Atau mungkin juga Ibu berpikir bahwa dokter dan pengacara lebih keren ketimbang tukang sampah. Entahlah.

Tetapi satu hal soal cita-cita masa kecil adalah ia seringkali begitu spesifik, sempit, dan berubah-ubah sesuai cara pandang seseorang terhadap dunianya. Banyak juga yang menganggap cita-cita identik dengan karier. Saya pun tumbuh dengan keyakinan itu.

Ketika SD, sempat terpikir oleh saya untuk jadi pemain catur profesional. Saya suka main catur di kelas dan kerap dihukum karena ketahuan. Catur lantas dilarang dan cita-cita pun buyar. Beranjak SMP, saya mulai menyukai sepak bola, tetapi keluarga tidak. Mereka takut saya dekil.

Cita-cita saya kembali berubah saat SMA. Sembilan tahun di sekolah Islam ternyata menyisakan banyak pertanyaan. Saat itulah saya mulai berkenalan dengan Plato and the genk. Filsafat begitu memukau saya, begitu juga dengan spiritualisme. Ibu suka filsafat, tetapi saya ragu apakah ia berkenan melihat anaknya hanya duduk-duduk di bawah pohon sambil menatap langit, memikirkan pertanyaan penting abad ini: Apakah alien ada?

Entah sejak kapan saya mulai memisahkan antara cita-cita dan karier. Tanpa saya sadari, menjadi pemain catur, pemain sepak bola, bahkan menjadi dokter, dan pengacara tak lagi tepat sebagai sebuah cita-cita. Itu hanya sebatas pilihan karier, karena itu, rasanya berbahaya jika kita mempertaruhkan seluruh hidup pada hal itu.

Setiap orang perlu menyadari bahwa karier berasal dari bahasa latin ‘carrus’, yang berarti ‘kendaraan beroda’. Siapapun tentu paham bahwa fungsi kendaraan adalah sebagai alat angkut ke tempat tujuan. Yup, karier adalah ‘kendaraan’, sementara cita-cita adalah tujuan.

Menjadikan karier sebagai destinasi tentu sangat berisiko. Sifat karier yang sempit, spesifik, dan kaku menghadapkan seseorang pada bahaya patah hati, putus asa, bahkan jadi gila, ketika kariernya tidak seperti yang diharapkan. Ada teman yang depresi karena gagal masuk kepolisian. Ada juga yang jadi pemadat karena gagal jadi dokter.

Hal itu tidak akan terjadi jika ia mengarahkan hidup pada cita-cita, misalnya menjadi pemberantas kejahatan. Gagal masuk kepolisian, ia bisa meniti karier jadi tentara, bekerja di lembaga anti korupsi, atau malah jadi jaksa. Yang ingin berkecimpung di dunia medis mungkin sedih ketika gagal jadi dokter, tetapi ia bisa berkarier sebagai perawat atau malah bikin bisnis apotik. Begitulah.

Buat saya, cita-cita mestilah luas dan fleksibel. Cita-cita ini tidak membuat seseorang jadi kaku dan takut mencoba berbagai jalan menuju ke sana, meski itu berarti mengubah karier. Cita-cita juga mesti setinggi langit, sehingga ketika Anda jatuh saat mencoba meraihnya, paling tidak tetap menyangkut di bintang-bintang.

Ketika saya memutuskan mengarungi karier sebagai penulis pada 2006, hal itu didorong oleh cita-cita untuk bekerja buat publik, di bidang yang dekat dan impactful terhadap publik. Tentu saja, pilihan itu bukan tanpa pengorbanan.

Keluarga saya mungkin senang karena pada akhirnya saya mengabaikan cita-cita masa kecil untuk menjadi tukang sampah. Tetapi mereka tidak tahu bahwa saya masih menginginkan sepatu kuning itu. Just in case… Jakarta banjir lagi.


Foto Fotosearch
 
 
 
 

Topic

his say

Share this article :

Related posts