Cleo Indonesia

Edit, Save As

Tahun baru sering bikin malu. Terkadang, liburan hanya berfungsi sebagai pengalih perhatian atas resolusi gagal setahun yang lalu. Jadi perlukah kita membuat resolusi tahun ini?
Oleh Bayu Maitra


Setahun yang lalu, di antara para sahabat dan di bawah gemerlap bintang-bintang, kami menyuarakan resolusi tahun baru 2015 dengan suara yang lantang. Si A ingin jadi vegetarian, B ingin ke gym setiap hari demi bokong dan paha yang kencang. Si C ingin menabung untuk beli mobil, sementara Si D ingin berhenti mabuk-mabukan. Saya sendiri bermimpi menerbitkan buku.

Resolusi tahun baru adalah barang lama. Orang Babilonia mengenalnya sejak 4.000 tahun lalu. Ketika tahun baru—yang ditandai musim panen di bulan Maret—tiba, mereka bikin perayaan selama 12 hari berturut-turut. Ini juga dilakukan oleh masyarakat Romawi berabad-abad setelahnya. Bagaimanapun, janji-janji yang dibuat kala itu cenderung berbau kenegaraan. Misalnya, sumpah setia pada sang raja atau penunjukkan hakim dan pejabat lainnya.

Perubahan terjadi ketika Romawi tak lagi berfokus pada perang. Di era itu, setengah hari pertama di perayaan tahun baru diisi dengan acara kurban di kuil-kuil, sementara pada setengah hari berikutnya, masyarakat bertukar manisan, seperti madu atau buah-buahan. Pesannya: Sweet new year!

Kini, di era internet, kehidupan manusia telah menjadi lebih connected dan individual di waktu yang bersamaan. Tradisi membuat resolusi bergeser dan banyak ditinggalkan. Pun jika ada, biasanya bersifat personal. Intinya, menjadikan diri lebih baik. Ketika menyusun artikel ini, saya menilik kembali janji para sahabat saya terhadap diri mereka sendiri, lalu membandingkan dengan kenyataan. Hasilnya? Semalam, si A baru saja makan cheeseburger. Bokong dan paha si B masih begitu-begitu saja. Si C menjadi pelanggan Uber, sementara Si D sibuk cari apartemen dan liquor untuk party malam tahun baru 2016. #yabegitulah

Saya mencoba mengingat kembali momen setahun silam dan menemukan kesalahan kami. Setelah berpikir ulang, rasanya ada pencerahan. Mungkin, waktu itu kami terlalu impulsif, muluk-muluk, dan kelewat percaya diri. Di bawah pengaruh wine, kami lupa bahwa hidup itu keras. Tetapi saya yakin kami tidak sendiri. Di luar sana, di malam yang sama, saya pikir pasti ada orang-orang yang lebih impulsif dan muluk-muluk ketimbang kami (dan dengan pasokan alkohol yang lebih banyak). Mungkin Anda salah satu satunya. Worry not! Mari renungi bersama kegagalan ini, demi resolusi yang lebih baik.

Kata orang bijak, satu penyebab gagalnya resolusi adalah tidak adanya SMART, baik sebelum maupun sesudah membuat resolusi. SMART, dalam konteks manajemen, merupakan kependekkan dari specific, measurable, attainable, relevant/rewarding, dan trackable. Specific di sini berarti Anda memiliki metode untuk meraihnya. Measurable berarti bisa melihat perubahan ketika tujuan tercapai. Attainable menandakan tujuan Anda relatif realistis (traveling ke Pluto atau menguasai dunia tidak termasuk di sini). Relevant berkaitan dengan pentingnya tujuan itu bagi Anda, dan trackable berarti kemajuannya dapat dipantau.

Hal-hal itulah yang luput dari para sahabat. Saya, si A, C, dan D adalah orang-orang yang tak memiliki langkah konkret untuk mewujudkan resolusi. Sementara, tak ada relevansi bagi si B untuk lebih mengencangkan bokong dan paha. Dia sudah cukup wow.
Saya sendiri gagal menerbitkan buku. Setelah tahu soal SMART, saya putuskan untuk mengubah resolusi. Sebelum buku utuh, saya mungkin bakal bikin antologi tulisan pendek terlebih dulu. Atau, bikin buku tapi keroyokan. Anda juga bisa mencoba. Daripada bikin resolusi baru yang ujungnya gagal lagi, coba ulik yang lama. Edit, save as.
 
Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts