Cleo Indonesia

Mencintai Daenerys

Saat wanita impian Anda memiliki satu kekurangan, semua jadi buyar. Oleh Bayu Maitra @bayumaitra



“Siapa karakter perempuan dalam serial Game of Thrones yang ingin lo jadikan pasangan hidup?” tanya seorang teman pada saya. Ini pertanyaan sulit, karena umumnya mereka sexually attractive. Anda yang menonton pasti mengangguk, sedangkan Anda yang tidak menonton, well… poor you.

Setelah mengingat, menimbang, dan memutuskan, saya menjatuhkan pilihan pada Daenerys Targaryen. Teman saya bilang bahwa pilihan saya terlalu mudah ditebak. Mungkin dia benar, tetapi demi Tuhan, saya punya 1001 alasan untuk memperjuangkan Daenerys dan hanya satu alasan untuk meninggalkannya.
Daenerys adalah anak seorang raja (baca: darah biru). Ketika masih bayi, ayahnya dibunuh dan ia dilarikan ke negeri seberang yang dihuni suku-suku nomad. Tumbuh di alam liar, Daenerys tumbuh menjadi perempuan tangguh. Ia nyaman tidur di tenda, dekat dengan alam, bisa berkuda, tak mengeluh diterpa panas matahari dan debu (baca: tidak manja).

Ketika remaja, ia dikawinkan secara paksa oleh kakaknya sendiri, kepada seorang kepala suku barbar, Dothraki, bernama Khal Drogo (baca: tabah). Dari yang merasa terpaksa, terhina dan menderita, Daenerys mencoba ikhlas dan melihat sisi positif dari kejadian yang menimpanya (baca: berserah diri pada yang Kuasa).

Ajaib! Terlepas dari tabiat Drogo yang keras, adatnya yang barbar dan primitif, Daenerys justru mulai bisa melihat kualitas Drogo sebagai lelaki sejati (baca: menerima apa adanya). Ia pun jadi jatuh cinta dan bahagia. Jadi, mungkin benar jika ada yang bilang, “selalu ada hikmah di balik suatu cobaan”.

Di ranjang, di awal-awal pernikahan, Drogo selalu menggauli Daenerys dengan posisi doggy style. Tetapi Daenerys bukan perempuan yang pasif dan monoton. Ia meminta pelayan perempuannya untuk mengajari berbagai macam posisi bercinta (baca: mau belajar dan suka hal-hal baru). Suatu malam, ia menolak posisi bercinta Drogo yang membosankan, and then she takes the lead (baca: berjiwa pemimpin).

Perkawinan Daenerys-Drogo berakhir tragis. Daenerys yang sedang hamil mengalami keguguran. Sementara Drogo mati konyol karena kesombongannya. Karena kurang berotak, Drogo tidak tahu bahwa luka akibat irisan pedang, jika tidak diobati, bisa menjadi infeksi dan merenggut nyawanya. Tetapi kisah Daenerys tidak berakhir di sini.

Daenerys masih punya mimpi untuk kembali ke tanah kelahirannya, suatu saat nanti (baca: cinta tanah air). Tetapi untuk melakukannya, ia mesti memimpin para pengikut setianya melintasi kota-kota sekitar, sekaligus memperkuat pengaruh dan mencari bala bantuan (baca: pintar berpolitik).

Dalam perjalanan, ketika mendapati kota dengan pemerintah yang korup, yang memperlakukan rakyat dengan tidak adil, Daenerys akan menaklukkannya. Satu per satu, tidak pandang bulu. Ia mencopot para pejabat, juga membebaskan para budak (baca: anti apartheid). Popularitas Daenerys kini membuatnya menjadi seorang ratu. Ratu yang cantik, seksi, dan dicintai oleh rakyatnya (baca: banyak fans), meski tidak semua (baca: haters ada di mana-mana).

Hingga season lima Game of Thrones berakhir, saya masih percaya bahwa Daenerys memiliki semua kualitas perempuan yang saya inginkan. Saya berani berdebat tujuh hari tujuh malam jika teman saya tetap tidak sepakat. Bagaimanapun, seperti yang saya bilang, ada satu hal yang mungkin membuat saya kabur dari Daenerys.

Daenerys memiliki julukan “mother of dragons”. Ia punya tiga anak naga bernama Drogon, Rhaegal, dan Viserion. Mereka anak-anak yang tidak lucu: besar, bersayap, bersisik, dan bisa menyemburkan api. Hanya bagus di layar kaca. Tak terbayangkan jika nanti saya dan Daenerys bertengkar. Menghadapi satu perempuan murka saja sudah sangaaaaat… mengerikan, apalagi ditambah tiga ekor naga. Maaf, saya masih sayang nyawa. Lebih baik saya melambai pada kamera. Menyerah. Minggat. Bye!

 
Foto TPG News
 
 

Share this article :

Related posts