Cleo Indonesia

Mrs. Underwood

Claire mungkin bukan feminist, tetapi dia tahu apa yang kadang dibutuhkan laki-laki: ‘tamparan’ di wajah. Oleh Bayu Maitra @bayumaitra



“Saya harus mempersiapkan diri, seandainya kamu tidak bisa mencalonkan diri lagi,” tutur Claire pada Frank Underwood, suaminya, dalam satu adegan di serial House of Cards. Pernyataan itu mengacu pada kesiapannya menggantikan sang suami dalam pemilu presiden. Alasannya? Demi langgengnya kekuasaan keluarga.

Ketika menonton episode pertama House of Cards pada 2013 silam, saya sudah yakin bahwa Claire punya insting dan kemampuan politik luar biasa. Second to none, bisa dibilang, jika dibandingkan dengan suaminya. Namun kekaguman baru muncul ketika pada satu malam saat saya menonton bersama teman dan ia berseloroh dengan mulutnya yang penuh keripik, “Ini, nih, baru cewek...”.

Ya, sebelumnya saya tidak menyadarinya. Dalam serial politik, rasanya wajar jika film dipenuhi ragam karakter buas dengan ambisi selangit. Wajar juga jika tokohnya adalah para pemegang sabuk hitam dari perguruan ‘silat lidah’. Tetapi malam itu teman saya menyoroti dimensi lain pada Claire: perempuan.

House of Cards tak akan semenarik ini (dan mendapat penghargaan sebanyak itu) jika hanya bergantung pada sosok Frank Underwood. Apalah yang luar biasa dari kisah pria redneck yang mengejar karier jadi politikus dan bermimpi jadi presiden? Sebaliknya, betapa menarik kisah perempuan yang menjadi istri laki-laki ndeso itu, yang kebetulan memiliki keahlian dan ambisi sama besar.

Sejak teman saya berkomentar, terus terang pandangan saya terhadap Claire jadi berbeda. Ia lebih bersinar. Saya juga jadi kagum dengan kemampuan penulis skenario yang?sadar atau tidak, telah membubuhi aksen feminisme dalam karyanya.

Dunia berutang pada feminisme. Kemunculan karakter perempuan dengan porsi peran yang besar dan vital dalam sebuah serial televisi populer yang ditayangkan secara global, mungkin tak pernah terbayangkan di era-era sebelumnya. Jangankan di televisi, di dunia nyata saja sulit membayangkannya.

Dunia juga berutang pada para penebar bibit feminisme, seperti Sappho di era Yunani kuno dan Hildegard dari Bingen di abad pertengahan. Di era modern, ada para perempuan lantang macam aktivis Olympes de Gouge dan penulis seperti Mary Wollstonecraft dan Jane Austen (God bless her!).

Berkat mereka, feminisme menemukan bentuk dan momentum-momentumnya. Gelombang pertama yang dimulai pada akhir 1800an memaksa dunia mengakui hak-hak politik perempuan. Gelombang kedua di era 1960an didominasi persoalan seksualitas dan hak-hak reproduksi. Pada fase ini, feminisme juga berkenalan dengan bentuk radikalnya.

Pada gelombang ketiga di pertengahan 90an, feminisme yang telah dipengaruhi pemikiran postkolonialism dan postmodernism seperti mencoba menjauhkan diri dari kesan ekstrem yang dimunculkan gelombang kedua. Mereka menggunakan atribut-atribut perempuan, seperti lipstik dan heels, dengan bebas, bangga, dan terbuka. Gelombang ini juga membongkar konsep ‘universal sisterhood’ yang dulu diagungkan. Feminisme menjadi lebih personal dan individual.

Martha Rampton, profesor sejarah dari Pacific University dan direktur dari Center for Gender Equity, mengatakan bahwa kini kita berada di ambang gelombang keempat feminisme. Bagaimanapun, “Di titik ini, kita masih belum yakin bagaimana feminisme akan bermutasi,” jelasnya kepada majalah Pacific. Saya jadi ingat Claire.

Claire tentu bukan feminist (saya bakal ‘dicincang’ jika bilang iya). Dosanya terhadap perempuan dan orang lain cukup banyak, mulai dari bekerjasama dengan pembunuh perempuan (suaminya sendiri), memecat perempuan yang sedang hamil, mengeksploitasi korban perkosaan, dan seterusnya. Claire hanyalah sosok karakter yang kuat. Walau begitu, bukan berarti tak ada nilai-nilai atau gestur feminist yang tercermin lewat karakter Claire. Melihat sosok Claire seperti melihat ‘buah’ dari sejarah panjang perjuangan perempuan dalam mendefinsikan ulang posisinya di dunia.

Lewat Claire, kita sadar bahwa perempuan telah berdiri sama tinggi dengan lelaki. Ia juga sama hebat, sama tegas, sama strategis, bahkan sama tega dengan para pria. Claire melakukan banyak hal menarik, mulai dari mendirikan NGO, menjadi duta PBB, bersuara untuk kalangan LGBT, memilih telur paskah berwarna merah darah ketimbang pink, hingga menyindir penis presiden Rusia dengan sebutan ‘little pickle’. Tetapi bukan itu yang paling menarik.

Dalam satu perselisihan di Air Force One, Frank melampiaskan amarah pada Claire dan menuduhnya inkompeten. “I should’ve never made you Ambassador,” kata Frank jumawa. Dengan kontrol diri yang luar biasa, Claire menjawab, “And I shouldn’t have made you President.”
 
 

Share this article :

Related posts