Cleo Indonesia

Sadar Fashion

Ada makna tersembunyi dibalik cita rasa fashion yang dipilih pria.
Oleh: Bayu Maitra



Teman pria saya mirip mannequin berjalan. Kapan dan di manapun, ia selalu ‘gaya’. Body language dirinya ikut memperkuat hal ini, mulai dari cara jalan, hingga ketika dia duduk atau bahkan bersandar. Kami mengejeknya Si banci tampil. Tetapi pertanyaan yang lebih menarik datang dari teman wanita kami, “Apa yang bikin lo ‘sadar fashion’?”

Ketika itu teman pria saya sedikit terkejut. Ia bilang, “Gue nggak sadar fashion, juga nggak ngikutin tren. Gue cuma memakai barang yang gue suka.“ Teman wanita kami diam. Matanya menatap tak percaya, meski kepalanya mengangguk-angguk seperti pajangan bulldog di dashboard mobil. Dan pertanyaan itu tetap mengudara.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali teringat pertanyaan itu. Afterall, the question was legit. Hal itu membuka jalan bagi pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih mendasar. Misalnya, seberapa besar nilai fashion bagi seorang pria? Dan apa pentingnya?

Saya pernah ngobrol dengan satu teman wanita. Ia mantan marketing communication manager salah satu lini busana mewah dunia. Sehari-hari, ia biasa menangani perempuan yang sekali gesek kartu kredit bisa bernilai puluhan juta rupiah. Saya tanya, apa yang mendorong kegilaan itu? Ia bilang, wanita ingin merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Tetapi saya bilang itu klise, dan ia memberi jawaban lain: they want to impress the other women.

Laki-laki juga ingin tampil mengesankan, tentu saja. Tetapi untuk sampai pada keputusan membeli sebuah barang fashion, rasanya ada banyak faktor lain yang memengaruhi. Kami tidak serta-merta membeli barang karena itu dari brand mewah, keluaran terbaru, atau karena desainnya avant-garde. Apalagi jika cuma untuk tampil mengesankan di depan… pria!

Lantas apa yang membuat seorang pria mempertimbangkan fashion? tanya saya dalam hati. Siapa sangka, pencerahan datang dari tempat yang tak terduga.

***
Saya terkesan dengan film Hotel Rwanda. Film ini adalah kisah nyata tentang Paul Rusesabagina (diperankan Don Cheadle), seorang manajer hotel yang memutuskan menampung ribuan pengungsi di hotelnya saat terjadi kekerasan oleh milisi Hutu di Rwanda. Tetapi ada sisi lain dari film itu yang lebih menarik. Dalam film, Paul selalu mengenakan atribut bisnis berupa setelan jas dan dasi. Ia mungkin tak menyadari bahwa pakaiannya bisa memengaruhi seluruh jalan cerita. Tetapi bagi saya yang duduk di bangku penonton, saya melihat dengan jelas bahwa setelan itu adalah senjata.

Hal itu senada dengan apa yang dibilang Dr. Jennifer Baumgartner, seorang psikolog dari Amerika Serikat. Baumgartner pernah membuat penelitian “Psychology of dress”, yang lantas dibukukan dengan judul yang provokatif, You Are What You Wear: What Your Clothes Reveal About You. Katanya, apa yang seseorang kenakan dapat memberi banyak informasi, di antaranya ambisi dan emosi.

Dalam Hotel Rwanda, busana yang dikenakan Paul?secara bawah sadar?telah memancarkan otoritas, kekuasaan, profesionalitas, dan tanggung jawab. Dengan modal itu, Paul berhasil mengatur dan akhirnya menyelamatkan nyawa ribuan orang. Paul mungkin tak akan berhasil melakukannya jika ia mengenakan kaus kutung dan sandal jepit. Hotel Rwanda memang bukan film tentang fashion, tetapi ia mampu merefleksikan the true power of fashion melebihi film-film fashion lainnya. Ketika banyak orang berkoar-koar soal the power of fashion di majalah-majalah atau di runway, Hotel Rwanda memperlihatkan bagaimana kekuatan itu justru terasa di kehidupan nyata, bahkan dalam situasi genting.

Ini poin penting bagi para pria. Kami suka dengan yang substansial. Jika teman pria saya mengatakan ia tidak sadar fashion, mungkin ia berkata jujur. Bisa jadi, fashion hanyalah satu alat untuk meraih tujuan yang lebih besar. Mungkin karier atau… jodoh!

Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts