Cleo Indonesia

Seks dan Ruang

Seks ada di mana-mana dan dilakukan di mana-mana. Tetapi hanya sedikit yang mempertanyakan pengaruh ruang terhadap dorongan seks.
Oleh Bayu Maitra
 


Satu sore, di tengah obrolan ringan para pria, saya bikin survei kecil-kecilan. Pertanyaannya mudah: di manakah tempat impian mereka dalam melakukan hubungan seks? Ini seperti api menyulut bensin. Jawabannya liar dan panas, mulai dari toilet pesawat, dapur, dapur orang lain, kantor, sampai di lumbung padi di tengah sawah. Namanya juga fantasi, sah-sah saja.
 
Tetapi ada pertanyaan yang sesungguhnya lebih penting: apa yang membuat ruang tertentu dapat memantik dorongan seksual laki-laki?
 
Ruang-ruang itu, pun ia super sempit, kotor, atau asing, ternyata mampu membuat para pria berpikir gila. Terlalu banyak menonton film? Mungkin juga. Hollywood memang piawai soal dramatisasi. Pengaruhnya mungkin lebih besar ketimbang seks dalam pornografi yang superfisial dan hiperbolis.
 
Bagaimanapun, rasanya ada faktor lain yang memengaruhi. Gen kami, misalnya. Satu studi dari Ohio State University menyatakan bahwa laki-laki berpikir soal seks sekitar 19 kali per hari. Jangan mendengus, karena studi itu juga mengatakan bahwa perempuan berpikir soal seks 10 kali per hari. Rasanya, selisih itu wajar, mengingat gen lelaki adalah gen petualang. Pertanyaan besar para perempuan semestinya ditujukan pada laki-laki yang tak berpikir soal seks.
 
Saya juga berpikir soal ruang. Ketika seseorang mau membangun rumah atau kamar, perencanaan yang umum adalah sebagai berikut: ini ruang kerja, itu untuk perpustakaan, yang itu ruang bermain, yang di sana ruang televisi, dan seterusnya. Desainnya terbayang di kepala. Tetapi, tak ada yang berpikir untuk membangun ruang dengan sensualitas.
 
Seksualitas pada sebuah bangunan telah lama menjadi diskusi dalam dunia arsitektur. Richard J. Williams, lewat buku Sex and Buildings: Modern Architecture and the Sexual Revolution, misalnya. Baginya, sebagian besar arsitektur dibangun untuk membuat kita menjadi ‘civil and efficient. Tetapi dimanakah rumah bagi passion and pleasure?
 
Ketiadaan itulah yang membuat beberapa ruang jadi seksi bukan kepalang. Ia menawarkan peluang, tantangan, dan petualangan. Tengok saja seks di Golden House pada era kekaisaran Nero, ide courts of love dari pemikir utopis Charles Fourier, atau seks yang terjadi di labirin-labirin pada era Mediterania. Di zaman sekarang, kita punya toilet pesawat, kantor, dapur orang lain, hingga lumbung padi di tengah sawah.
 
Sore itu, saya juga bertanya pada teman-teman soal apa pendapat mereka tentang perempuan dengan imajinasi tinggi. Dalam arti, perempuan dengan ide dan inisiatif yang sama gilanya dengan mereka. Lima dari enam menjawab singkat dan padat: suka. Satu orang lagi? Senyum-senyum dengan otak yang sudah melayang entah ke mana.
 
Para perempuan zaman sekarang dihadapkan pada kenyataan berikut: pertama, bahwa hubungan tanpa seks yang berkualitas sering berujung perpisahan. Kedua, para pria butuh seks dan petualangan. Dan ketiga, bahwa ruang memiliki peran bagi peningkatkan aktivitis seksual.
 
Jadi, kelak jika hendak membangun tempat tinggal dengan pasangan, Anda mungkin ingin mempertimbangkan unsur seksualitas di dalamnya. Di rumah lah semestinya passion and pleasure berada.
 
Dan jika Anda ingin mengajak pasangan berpelesir, pastikan tujuan Anda cukup menggiurkan. Pilihan yang tepat akan membuat kami, para pria, bersemangat. Mungkin, cukup bersemangat untuk segera menarik Anda ke dalam sebuah ruangan dan... you know the rest.
 
 
Foto Fotosearch
 
 

Share this article :

Related posts