Cleo Indonesia

Saat Instagram Menjadi Racun Hidup

Sebab hidup ini bernilai lebih dari sekadar banyaknya likes yang Anda dapatkan.


 “Tempatnya Instagrammable banget, nih.” “Jangan dimakan dulu, mau gue Instagram.” “Selfie yang ini angle-nya kurang bagus, nih, buat Instagram.” Seberapa sering Anda mendengar (dan mengatakan) kalimat-kalimat seperti contoh-contoh barusan? Tak bisa dipungkiri lagi, aplikasi media sosial satu ini memang sudah menjadi bagian besar dalam keseharian generasi millennial seperti kita.

Instagram, atau beberapa orang lebih suka menyebutnya IG, memang salah satu media sosial paling menyenangkan. Hanya dengan sekali jepret, Anda bisa berbagi secara visual apapun yang ingin Anda bagi kepada dunia. Namun sebenarnya, bukan hanya itu alasan mengapa Instagram begitu populer. It’s the endless scrolling that gets us addicted. Awalnya Anda melihat foto keren di timeline IG Anda yang diunggah seorang teman yang sedang keliling Amerika, lalu Anda mengintip akunnya untuk melihat-lihat foto-foto lain yang sudah ia unggah. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba Anda end up sedang melihat-lihat foto pacar dari teman kuliah Anda dengan tulisan 84 weeks ago di sudut kanan atas. “Wait, how did I get this far?” Belum lagi kalau Anda sedang bosan dan memilih menu Explore Posts yang berbentuk kaca pembesar di kiri bawah di sebelah menu Home. You don’t even know these people, yet you can’t stop scrolling.

Namun lucunya ada sebagian orang yang menjadikan apapun yang ia lihat di IG sebagai ‘pedoman’ hidup keseharian dan memang menjalani hari demi posting sesuatu di akun IG-nya (demi memperbanyak follower atau follower-nya memang banyak). Masalahnya, IG (dan kebanyakan media sosial lain) adalah double-edged sword. Instagram adalah media yang sangat efektif untuk networking, marketing, hingga bersosialisasi. Akan tetapi, IG juga adalah sarana untuk membuat penggunanya membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain hingga menimbulkan peer pressure tersendiri, rasa iri, bahkan stres. Berapa kali Anda melihat-lihat foto teman atau foto selebriti yang menjalani kehidupan yang (tampak) sempurna di IG, lalu menemukan diri Anda sendiri ‘hanya’ berada di balik cubicle kantor?

Hal itu adalah alasan utama mengapa IG bisa menjadi sangat ‘beracun’ jika kita membiarkannya mengontrol dan mengatur hidup kita. Yang harus kita sadari, semua orang (atau semua pengguna IG) hanya menampilkan sisi terbaik saat mengunggah foto, untuk memberikan citra bahwa hidupnya sempurna. Pencitraan, if you will. Kenyataannya, their (real) lives are not as pretty as their IG pics, and our lives don’t revolve around Instagram. Instagram hanya bagian kecil dari dunia maya, dan kita hidup di dunia nyata. So, how much Instagram rules your life?

Teks Rara Putri Delia Foto Fotosearch
 

Share this article :

Related posts