Cleo Indonesia

Alfa Pungki Irawan


Sahabat Anak-anak Marginal



Jadi sahabat anak-anak marginal
Sejak dua tahun lalu saya menjadi volunteer di komunitas Sahabat Anak. Awalnya, teman kantor mengajak saya untuk ikut komunitas ini karena dia tahu saya menyukai kegiatan seperti itu. Sahabat Anak adalah komunitas yang berfokus pada memberikan pelajaran kepada anak-anak marginal. Kami mau menjadi sahabat mereka. Dengan menjadi sahabat, artinya kami tidak boleh memberikan uang.

Setiap hari Minggu, sebelum pukul 3 sore kami mengumpulkan anak-anak di Sahabat Anak Gambir. Kalau ada anak-anak lain yang ingin ikutan, mereka cukup datang saja dan memperkenalkan diri. Mengajar anak-anak itu tidak mudah. Mereka suka bermain, jadi kami harus ‘memancing’ dulu,  melakukan sesuatu yang membuat mereka tertarik, atau ice breaking, baru kemudian mengajak belajar. Di Sahabat Anak, saya mengajarkan sesi kesenian dan kreativitas. Saya mengajak mereka membuat sesuatu yang sederhana, misalnya kerajinan tangan dari kerang, lalu menjualnya. Selain itu saya juga mengajarkan mereka untuk menjadi entrepreneur kecil dan memberikan latihan supaya otak mereka berkembang.

Sulit meyakinkan orang tua murid
Yang namanya volunteer, dana untuk kegiatan berasal dari kami sendiri. Kami juga pernah menggalang dana, lalu memanfaatkan hasilnya untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak. Kami memberikan beasiswa penuh, sehingga ada tanggung jawab untuk memonitor perkembangan mereka di sekolah, misalnya rajin atau tidak. Kalau perkembangannya bagus, kami bisa meneruskan beasiswa sampai kuliah. Semua itu tergantung pada anak itu sendiri, apakah mau sekolah sampai kuliah atau tidak. Biasanya anak memiliki keinginan untuk kuliah, tetapi orang tuanya tidak mau anak mereka bersekolah. Mereka berpikir buat apa sekolah tinggi, tapi ujung-ujungnya menikah, terutama untuk anak perempuan. Padahal anak-anak itu memiliki harapan untuk bisa membaca, menulis, bersekolah, dan maju.

Membuka wawasan
Apa yang diinginkan anak-anak adalah hal-hal yang mereka lihat setiap hari. Ada anak yang memiliki bapak yang bekerja sebagai tukang sapu jalanan, dan ia memiliki keinginan untuk menjadi bos tukang sapu. Saat membicarakan keinginan, anak-anak biasanya memberikan jawaban yang sederhana, misalnya ingin pergi ke Ancol. Makanya, kami mencoba membuka wawasan mereka, misalnya ada banyak profesi selain guru dan pilot, supaya mereka mempunyai motivasi dan impian. Walaupun wawasan mereka mungkin belum terbuka, mereka dekat dengan internet karena sering menghabiskan waktu ke warnet dan bermain playstation. Tidak jarang mereka menanyakan akun Facebook saya.

RARA PUTRI DELIA
FOTO: HERMAWAN

Share this article :

Related posts