Cleo Indonesia

Explore Movies with Ronald De La Rosa


Film di mata Co-Founder Movie Explorers.

"Menonton film tidak hanya dilihat dari bagus atau jeleknya, ada banyak sisi yang bisa dinilai.”





























A whole package
Saya suka menonton film sejak kecil. Film itu hiburan yang bisa kita nikmati dari segala sisi. Saya senang mendapat emosi atau perasaan setelah selesai menonton, mengajak saya berdiskusi ke diri sendiri atau bahkan dengan orang lain. Menonton film tidak hanya dilihat dari bagus atau jeleknya, ada banyak yang bisa saya nilai. Ada plotnya, karakternya, chemistry antara para tokohnya, acting-nya, atau pengambilan gambarnya. Makanya ketika saya bisa berdiskusi dengan orang lain tentang film, saya senang banget. Itulah cikal bakal saya dengan seorang teman mendirikan Movie Xplorers.

Lucunya, saya bertemu dengan Galih Aristo pertama kali bukan di sebuah acara film, melainkan di perayaan Earth Hour pada tahun 2009. Selama ngobrol, kami malah nyambung di topik tentang film. Pikiran kami sama: membuat sesuatu yang berhubungan dengan film. Kami yakin banyak orang-orang yang punya minat sama. Meski kesannya ‘cuma’ menonton film, tapi ada banyak yang bisa dibahas. Baik penikmat maupun pembuat film bisa bersama-sama menjelajahi film-film secara lebih dalam. Berdua dengan Galih, kami mendirikan Movie Xplorers di tahun 2010. Awal tahun ini, kami berhasil meluncurkan MovieXplorers.com yang menggabungkan website dengan fitur social media untuk memberitakan hal apapun yang berlangsung di dunia film mainstream dan indie.

Bioskop tempat terfavorit

Sebagai seorang movie fan, bioskop mungkin menjadi rumah kedua. Makanya event utama Movie Xplorers di kala awal dibentuk adalah membuat acara nonton bareng (nobar) secara gratis. Tentu nobar seperti ini bisa terwujud berkat kerjasama dengan para distributor film. Tugas kami biasanya mengatur venue dan komunitas. Antusiasme acara nobar seperti ini tinggi sekali, apalagi jika film-film yang diputar buatan DC atau Marvel Comics yang fanbase-nya kuat.

Beda pendapat

Di era sekarang di mana socmed begitu hidup, semua orang pun bebas mengutarakan pendapat, termasuk dalam mengomentari film yang ditontonnya ke Twitter, Facebook, atau blog. Saya tak punya masalah dengan hal ini, sekalipun itu spoiler. Toh akhirnya saya sendiri yang menilai. Jika pendapat orang lain berbeda dengan saya, misalnya menyebut film Scarface (1983) dan Inception (2010)—dua film favorit saya—jelek, malah akan menjadi lebih menarik. Begitu juga dalam mendekati lawan jenis, saya tak memiliki kriteria khusus kalau dia harus penggila film dan satu selera dengan saya. Saya tertantang dengan opposite attraction, sih.
    
ANGGARA DIALUSI
FOTO: HONDA TRANGGONO

Share this article :

Related posts