Cleo Indonesia

Gito Hendro Wicaksono


Volunteer Earth Hour Bekasi, Save Mugo, Bekasi Green Attack.



Berawal dari Penasaran

Gerakan Earth Hour (EH) yang diprakarsai oleh WWF lahir di Bekasi sejak 2012. Setelah satu tahun EH berjalan di Bekasi, saya baru mulai bergabung. Saat itu saya sedang membuka Twitter. Ternyata ada kegiatan yang diadakan di dekat rumah. Saya penasaran, masa sih, saya tidak tahu bahwa ada kegiatan seperti ini di dekat rumah? Saya memutuskan datang dan bergabung, dan ikut terus sampai sekarang.

EH sendiri adalah gerakan tentang hemat energi yang salah satu kegiatannya bersifat seremonial dan diadakan setiap bulan Maret tiap tahunnya, yaitu pemadaman lampu. Biasanya ada topik tertentu dalam rangkaian kegiatan kami, seperti beberapa waktu lalu kami berkampanye tentang transportasi publik.

Waktu itu kami melakukan street campaign ke Stasiun Bekasi, membuat statement berupa tulisan ucapan terima kasih dan berjalan dari gerbong ke gerbong. Kami mengucapkan terima kasih kepada warga yang sudah menggunakan transportasi umum, dan membangun kesadaran untuk yang belum.

Menyelamatkan Muara Gembong
Saat ini kami sedang fokus pada gerakan Save Mugo, yaitu gerakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Muara Gembong, meminimalisasi dampak abrasi di sana, dan ingin menjadikan Muara Gembong sebagai tujuan eco-wisata. Di Save Mugo ini, kami tak membawa nama komunitas masing-masing. Komunitas-komunitas di Bekasi menjadi satu dan kami menggunakan nama Save Mugo dengan hashtag #savemugo.

Salah satu kegiatan rutinnya adalah menanam mangrove. Bentuk partisipasi kegiatan ini ada dua, yaitu donasi, dimana donatur cukup menyumbang harga satu bibit mangrove sebesar sepuluh ribu rupiah, atau partisipasi langsung bagi yang punya waktu dan berminat menanam bersama-sama. Kami cukup senang. Kegiatan menanam mangrove di Hari Bumi beberapa waktu lalu diikuti dengan antusias. Pesertanya mencapai 350 orang! Ini di luar ekspektasi, ternyata banyak juga orang-orang yang mau panas-panasan dan main lumpur sambil menanam. Teman-teman dari daerah manapun, tak harus dari Bekasi, juga boleh terlibat menanam.

Karena Malu
Sebelum saya aktif terlibat dengan komunitas seperti sekarang ini, awareness saya terhadap lingkungan berasal dari rasa malu, misalnya malu karena buang sampah sembarangan. Meskipun tak ada yang melihat, saya—dan harusnya setiap orang—merasa malu apabila membuang sampah tidak pada tempatnya. Rasa malu terhadap hal kecil ini, pasti akan berkembang ke hal-hal yang lebih besar.

Sayang lingkungan pun tak berarti harus ikut komunitas atau bikin acara besar, kok. Mulai saja dari hal kecil dan terapkan sebagai gaya hidup, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik, selalu membawa tumbler sebagai tempat minum, menggunakan kertas untuk nge-print dengan bolak-balik, dan sebagainya.

PRIHANDHINI
FOTO: JANE DJUARAHADI

Share this article :

Related posts