Cleo Indonesia

Muhammad Aga, The Talended Barista from Tanamera Coffee


“I have no problem with caffeine, but I have a problem without caffeine.”






























Musisi Jadi Tukang Kopi
Dulu saya adalah seorang musisi di sebuah band yang khusus membawakan musik-musik tahun 60-an dan juga menciptakan beberapa lagu sendiri. Setelah mengambil jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta, saya semakin mencintai musik. Tetapi, setelah berkenalan dengan dunia kopi pada 2008, saya langsung jatuh cinta. Ketika akhirnya harus memilih salah satu bidang, saya pun memutuskan untuk fokus ke kopi. Setelah menjadi seorang barista, saya semakin excited menemukan berbagai jenis kopi dengan rasa yang unik. Beberapa orang pernah menyinggung saya sebagai seorang musisi yang beralih profesi menjadi tukang kopi, tetapi bagi saya tak masalah karena ini adalah impian saya. Meskipun begitu, hingga kini saya masih sering mengisi waktu luang dengan nge-jam bersama teman.

Mendalami Langsung
Sebagai barista, saya juga harus memiliki pengetahuan yang baik seputar kopi, sehingga saya juga senang berkunjung langsung ke kebun kopi. Karena memerlukan keahlian khusus, saya juga belajar secara otodidak lewat social media, workshop event, mengikuti pertemuan komunitas, serta rajin menyimak informasi dari Specialty Coffee Association of America (SCAA) lewat internet.

Selain itu saya juga bertanya kepada ahli kopi bagaimana teknik membuat racikan yang benar. Untuk teknik latte art sendiri yang terdiri dari dusting, icing, dan pouring, saya paling menyukai teknik pouring yang tingkat kesulitannya tertinggi karena menghias dengan menuangkan secara langsung. Setiap pagi, saya selalu melakukan kalibrasi, yaitu mengembalikan taste kopi yang telah teroksidasi agar kembali ke rasa aslinya. Jadi, bisa lebih dari lima gelas kopi bisa saya coba setiap harinya. Brewed coffee harus dicoba terus sampai mendapatkan rasa yang sama. Semua itu saya lakukan untuk menjaga konsistensi rasa.

Peran Kopi Dalam Kehidupan
Selama dua tahun lebih, saya telah mendapatkan banyak hal dari memperdalam dunia kopi. Kompetisi pertama yang saya ikuti adalah Latte Art Throw Down Competition di 2012 dan menjadi juara satu. Setelah itu pada 2013 saya menduduki posisi kelima di Indonesian Barista Competition dan follow up-nya adalah dikirim ke Bangkok untuk ASEAN Barista Competition dan mendapatkan posisi ketujuh berkompetisi dengan para barista senior yang sudah sering mengikuti kompetisi dunia.

Dengan belajar dari sebiji kopi, saya kini bisa lebih mencintai Indonesia yang ternyata merupakan penghasil kopi terbaik nomor tiga di dunia. Selain itu saya juga lebih menghargai pekerjaan seorang petani. Lewat kopi, saya jadi lebih tahu bagaimana harus menikmati kopi dan bisa mendapatkan networking yang banyak. Kopi membuat saya berkembang dan turut membentuk kepribadian saya. Target saya selanjutnya adalah berpartisipasi di World Barista Championship yang merupakan incaran semua barista.

NOVITA PERMATASARI
FOTO: PETER F. MOMOR

Share this article :

Related posts