Cleo Indonesia

Pengagum Film Klasik, Rangga Wisesa

“Saya suka film Indonesia zaman dulu karena artistik dan lebih hidup. Di zaman itu, teknologi belum maju, tetapi mereka sudah bisa membuat film yang keren.”


Pilih film klasik
Saya suka menonton film karena ‘ketularan’ ibu. Beliau tidak bekerja di bidang film, tetapi memiliki pengetahuan yang luas tentang film. Sejak umur lima tahun, saya sudah menonton film klasik Indonesia. Film yang pertama kali saya tonton adalah filmnya Teguh Karya berjudul Usia 18. Saya suka film Indonesia zaman dulu karena artistik dan lebih hidup. Di zaman itu, teknologi belum maju, tetapi mereka sudah bisa membuat film yang keren. Kemampuan para pemainnya juga tidak perlu ditanya lagi, contohnya Christine Hakim. Sewaktu kecil, setelah pulang sekolah saya pasti meminta kepada ibu untuk menonton film. Sekarang saya menonton film kapan saja jika sempat, misalnya saat pulang kantor. Untuk film Indonesia, saya menyukai film dengan genre apapun, terutama thriller dan horor. Saat menonton film, saya memerhatikan acting pemainnya. Dari situ saya bisa tahu apa yang mau disampaikan oleh sutradara. Walaupun bukan pengamat atau juri, saya juga suka memerhatikan kostum, scoring, dan editing.

Mengagumi Film Teguh Karya & Woody Allen
Hal yang saya suka dari film Hollywood adalah mereka tidak melihat pemain dari sisi usia. Maksudnya, walaupun sudah berusia 60 tahun, seorang aktor bisa menjadi pemain utama selama dia memiliki kualitas yang baik. Sedangkan di Indonesia, pemain utama biasanya tergantung pada pemain yang masih muda. Menurut saya, film Indonesia susah ditebak. Kadang kita menebak bahwa film itu bagus, namun setelah menonton ternyata mengecewakan. Akhirnya, kita bisa sangat menyukai atau nggak suka sama sekali dengan film itu. Film yang paling berkesan buat saya adalah Doea Tanda Mata karena artistik dan menampilkan setting yang rapi sekali. Film karya Teguh Karya itu berlatar belakang tahun 1930an di Indonesia (dulu dikenal dengan Hindia Belanda–red). Dulu saya menonton film itu di salah satu stasiun televisi swasta. Lalu untuk film Hollywood, saya suka filmnya Woody Allen berjudul Hannah and Her Sisters tentang kakak beradik yang mempunyai masalah masing-masing. Di luar dua film ini, ada banyak film lainnya yang saya suka, contohnya Belenggu.

Mewujudkan apresiasi terhadap film
Saat ini saya menjadi PR & Program Director Piala Maya–sebuah ajang festival film yang berbeda dengan ajang yang sudah ada karena lebih independen dan ada lebih banyak kategori penghargaan. Saya menggodok mekanismenya dan memilih para juri dari berbagai profesi. Piala Maya adalah wujud apresiasi terhadap film dari dunia maya ke dunia nyata. Piala Maya adalah acara tahunan. Semoga selanjutnya acara ini bisa lebih bagus lagi. Saya memiliki impian untuk bermain di sebuah film, membuat film, atau menjadi penata artistik. Keinginan saya adalah bisa diarahkan oleh Slamet Raharjo atau bisa kerja sama dengan Mira Lesmana.


FOTO: HONDA TRANGGONO

Share this article :

Related posts